A. Pendahuluan
Jalan Adalah Suatu Kepentingan Vital Yang Harus Terpenuhi
Pada Zaman Sekarang. Seiring Dengan Perkembangan Zaman, Maka Kebutuhan Akan Jalan
Juga Berkembang. Maka Mulailah Manusia Berusaha Memenuhi Kebutuhan
Tersebut.
Dari Berbagai Sumber Diperoleh Suatu Kesimpulan Bahwa Air
Laut Dan Penambahan Kadar Garam Pada Air Laut Ternyata Mempunyai Pengaruh
Terhadap Perkerasan Aspal Pori, Sehingga Menyebabkan Turunnya Nilai Stabilitas.
Perkerasan Jalan Adalah Campuran Antara Agregat
Dan Bahan Pengikat Yang Digunakan Untuk Melayani Beban Lalu Lintas. Agregat
Yang Dipakai Adalah Batu Pecah Atau Batu Belah Atau Batu Kali Ataupun
Bahan Lainnya. Bahan Ikat Yang Dipakai
Adalah Aspal, Semen Ataupun Tanah Liat.
Bangunan Jalan Atau Lebih Dikenal Dengan Konstruksi Perkerasan Jalan Lentur
Biasanya Terbuat Dari Material Dasar Aggregat Dan Aspal. Aspal Adalah
Material Yang Berwarna Hitam Dengan Aroma Khas, Yang Akan Berbentuk Cair Pada
Suhu Yang Tinggi Dan Berbentuk Padat Pada Suhu Rendah. Aspal Yang Sering
Digunakan Untuk Membuat Perkerasan Jalan Dikenal Dengan Nama Hot Mix Atau
Aspal Panas. Sedangkan Aggregat Adalah Batuan Yang Terdiri Dari Batu Besar
Hingga Kecil. Dapat Digunakan Sesuai Kebutuhan Konstruksi.
Perkerasan Jalan Raya Dibuat Berlapis-Lapis Bertujuan Untuk Menerima Beban
Kendaraan Yang Melaluinya Dan Meneruskan Kelapisan Dibawahnya. Biasanya
Material Yang Digunakan Pada Lapisan-Lapisan Perkerasan Jalan Semakin Kebawah
Akan Semakin Berkurang Kualitasnya. Karena Lapisan Yang Berada Dibawah Lebih
Sedikit Menahan Beban, Atau Menahan Beban Lebih Ringan.
1. Rigid Pavement (Perkerasan Kaku)
Perkerasan Kakau/Rigit Adalah Perkerasan Yang Menggunakan Bahan Ikat Aspal,
Yang Sifatnya Kaku. Perkerasan Kaku Berupa Plat Beton Dengan Atau Tanpa
Tulangan Diatas Tanah Dasar Dengan Atau Tanpa Pondasi Bawah. Beban Lalu Lintas
Diteruskan Keatas Plat Beton. Perkerasan Kaku Bisa Dikelompokkan Atas:
1. Perkerasan Kaku Semen Yang Terbuat
Dari Beton Semen Baik Yang Bertulang Ataupun Tanpa Tulangan
2. Perkerasan Kaku Komposit Yang
Terbuat Dari Komposit Sehingga Lebih Kuat Dari Perkerasan Semen, Sehingga Baik
Untuk Digunakan Pada Landasan Pesawat Udara Di Bandara.
Untuk Digunakan Pada Landasan Pesawat Udara Di Bandara.
Perkerasan Jalan Beton Semen Atau Secara Umum Disebut Perkerasan Kaku, Terdiri
Atas Plat (Slab) Beton Semen Sebagai Lapis Pondasi Dan Lapis Pondasi Bawah (Bisa
Juga Tidak Ada) Di Atas Tanah Dasar. Dalam Konstruksi Perkerasan Kaku, Plat
Beton Sering Disebut Sebagai Lapis Pondasi Karena Dimungkinkan Masih Adanya
Lapisan Aspal Beton Di Atasnya Yang Berfungsi Sebagai Lapis Permukaan.
Perkerasan Beton Yang Kaku Dan Memiliki Modulus Elastisitas Yang Tinggi, Akan
Mendistribusikan Beban Ke Bidang Tanah Dasar Yang Cukup Luas Sehingga Bagian
Terbesar Dari Kapasitas Struktur Perkerasan Diperoleh Dari Plat Beton Sendiri.
Hal Ini Berbeda Dengan Perkerasan Lentur Dimana Kekuatan Perkerasan Diperoleh
Dari Tebal Lapis Pondasi Bawah, Lapis Pondasi Dan Lapis Permukaan.
Karena Yang Paling Penting Adalah Mengetahui Kapasitas Struktur Yang Menanggung
Beban, Maka Faktor Yang Paling Diperhatikan Dalam Perencanaan Tebal Perkerasan
Beton Semen Adalah Kekuatan Beton Itu Sendiri. Adanya Beragam Kekuatan Dari
Tanah Dasar Dan Atau Pondasi Hanya Berpengaruh Kecil Terhadap Kapasitas
Struktural Perkerasannya.
Lapis
Pondasi Bawah Jika Digunakan Di Bawah Plat Beton Karena Beberapa Pertimbangan,
Yaitu Antara Lain Untuk Menghindari Terjadinya Pumping, Kendali Terhadap Sistem
Drainasi, Kendali Terhadap Kembang-Susut Yang Terjadi Pada Tanah Dasar Dan
Untuk Menyediakan Lantai Kerja (Working Platform) Untuk Pekerjaan Konstruksi.
Secara Lebih Spesifik, Fungsi Dari Lapis Pondasi Bawah
Adalah :
·
Menyediakan Lapisan Yang Seragam, Stabil Dan Permanen.
· Menaikkan
Harga Modulus Reaksi Tanah Dasar (Modulus Of Sub-Grade Reaction = K), Menjadi
Modulus Reaksi Gabungan (Modulus Of Composite Reaction).
· Mengurangi
Kemungkinan Terjadinya Retak-Retak Pada Plat Beton.
·
Menyediakan Lantai Kerja Bagi Alat-Alat Berat Selama Masa Konstruksi.
·
Menghindari Terjadinya Pumping, Yaitu Keluarnya Butir-Butiran Halus Tanah
Bersama Air Pada Daerah Sambungan, Retakan Atau Pada Bagian Pinggir Perkerasan,
Akibat Lendutan Atau Gerakan Vertikal Plat Beton Karena Beban Lalu Lintas,
Setelah Adanya Air Bebas Terakumulasi Di Bawah Pelat.
Pemilihan Penggunaan Jenis Perkerasan Kaku Dibandingkan Dengan Perkerasan
Lentur Yang Sudah Lama Dikenal Dan Lebih Sering Digunakan, Dilakukan
Berdasarkan Keuntungan Dan Kerugian Masing-Masing Jenis Perkerasan Tersebut.
· Perkembangan
Perkerasan Kaku
Pada
Awal Mula Rekayasa Jalan Raya, Plat Perkerasan Kaku Dibangun Langsung Di Atas
Tanah Dasar Tanpa Memperhatikan Sama Sekali Jenis Tanah Dasar Dan Kondisi
Drainasenya. Pada Umumnya Dibangun Plat Beton Setebal 6 – 7 Inch. Dengan
Bertambahnya Beban Lalu-Lintas, Khususnya Setelah Perang Dunia Ke Ii, Mulai
Disadari Bahwa Jenis Tanah Dasar Berperan Penting Terhadap Unjuk Kerja
Perkerasan, Terutama Sangat Pengaruh Terhadap Terjadinya Pumping Pada
Perkerasan. Oleh Karena Itu, Untuk Selanjutnya Usaha-Usaha Untuk Mengatasi
Pumping Sangat Penting Untuk Diperhitungkan Dalam Perencanaan.
Pada Periode Sebelumnya, Tidak Biasa Membuat Pelat Beton Dengan Penebalan Di Bagian Ujung / Pinggir Untuk Mengatasi Kondisi Tegangan Struktural Yang Sangat Tinggi Akibat Beban Truk Yang Sering Lewat Di Bagian Pinggir Perkerasan.
Kemudian Setelah Efek Pumping Sering Terjadi Pada Kebanyakan Jalan Raya Dan Jalan Bebas Hambatan, Banyak Dibangun Konstruksi Pekerasan Kaku Yang Lebih Tebal Yaitu Antara 9 – 10 Inch.
Guna
Mempelajari Hubungan Antara Beban Lalu-Lintas Dan Perkerasan Kaku, Pada Tahun
1949 Di Maryland Usa Telah Dibangun Test Roads Atau Jalan Uji Dengan Arahan
Dari Highway Research Board, Yaitu Untuk Mempelajari Dan Mencari Hubungan
Antara Beragam Beban Sumbu Kendaraan Terhadap Unjuk Kerja Perkerasan Kaku.
Perkerasan Beton Pada Jalan Uji Dibangun Setebal Potongan Melintang 9 – 7 – 9
Inch, Jarak Antara Siar Susut 40 Kaki, Sedangkan Jarak Antara Siar Muai 120
Kaki. Untuk Sambungan Memanjang Digunakan Dowel Berdiameter 3/4 Inch Dan
Berjarak 15 Inch Di Bagian Tengah. Perkerasan Beton Uji Ini Diperkuat Dengan
Wire Mesh.
Tujuan Dari Program Jalan Uji Ini Adalah Untuk Mengetahui Efek Pembebanan
Relatif Dan Konfigurasi Tegangan Pada Perkerasan Kaku. Beban Yang Digunakan
Adalah 18.000 Lbs Dan 22.400 Pounds Untuk Sumbu Tunggal Dan 32.000 Serta 44.000
Pounds Pada Sumbu Ganda. Hasil Yang Paling Penting Dari Program Uji Ini Adalah
Bahwa Perkembangan Retak Pada Pelat Beton Adalah Karena Terjadinya Gejala
Pumping. Tegangan Dan Lendutan Yang Diukur Pada Jalan Uji Adalah Akibat Adanya
Pumping.
Selain Itu Dikenal Juga Aasho Road Test Yang Dibangun Di Ottawa, Illinois Pada
Tahun 1950. Salah Satu Hasil Yang Paling Penting Dari Penelitian Pada Jalan Uji
Aasho Ini Adalah Mengenai Indeks Pelayanan. Penemuan Yang Paling Signifikan
Adalah Adanya Hubungan Antara Perubahan Repetisi Beban Terhadap Perubahan
Tingkat Pelayanan Jalan. Pada Jalan Uji Aasho, Tingkat Pelayanan Akhir
Diasumsikan Dengan Angka 1,5 (Tergantung Juga Kinerja Perkerasan Yang
Diharapkan), Sedangkan Tingkat Pelayanan Awal Selalu Kurang Dan 5,0.
· Jenis-Jenis
Perkerasan Jalan Beton Semen
Berdasarkan Adanya Sambungan Dan Tulangan Plat Beton
Perkerasan Kaku, Perkerasan Beton Semen Dapat Diklasifikasikan Menjadi 3 Jenis Sebagai
Berikut :
· Perkerasan
Beton Semen Biasa Dengan Sambungan Tanpa Tulangan Untuk Kendali Retak.
· Perkerasan
Beton Semen Biasa Dengan Sambungan Dengan Tulangan Plat Untuk Kendali Retak.
Untuk Kendali Retak Digunakan Wire Mesh Diantara Siar Dan Penggunaannya
Independen Terhadap Adanya Tulangan Dowel.
· Perkerasan
Beton Bertulang Menerus (Tanpa Sambungan). Tulangan Beton Terdiri Dari Baja
Tulangan Dengan Prosentasi Besi Yang Relatif Cukup Banyak (0,02 % Dari Luas
Penampang Beton).
Pada
Saat Ini, Jenis Perkerasan Beton Semen Yang Populer Dan Banyak Digunakan Di
Negara-Negara Maju Adalah Jenis Perkerasan Beton Bertulang Menerus.
2. Flexible Pavement (Perkerasan Lentur)
Perkerasan Lentur Adalah Perkerasan Yang Menggunakan Bahan Ikat Aspal, Yang
Sifatnya Lentur Terutama Pada Saat Panas. Aspal Dan Agregat Ditebar Dijalan
Pada Suhu Tinggi (Sekitar 100 0c).
Pada Umumnya, Perkerasan Jalan Lentur Terdiri Dari Beberapa Jenis Lapisan
Perkerasan Yang Tersusun Dari Bawah Ke Atas,Sebagai Berikut :
Lapisan Tanah Dasar (Sub Grade)
Lapisan Pondasi Bawah (Subbase
Course)
Lapisan Pondasi Atas (Base
Course)
Lapisan Permukaan / Penutup
(Surface Course)
1. Lapisan
Tanah Dasar (Subgrade)
Lapisan Tanah Dasar Adalah Bagian Terbawah Dari Perkerasan Jalan Raya. Apabila
Kondisi Tanah Pada Lokasi Pembangunan Jalan Mempunyai Spesifikasi Yang
Direncanakan Makan Tanah Tersebut Akan Langsung Dipadatkan Dan Digunakan.
Tebalnya Berkisar Antara 50 – 100 Cm. Fungsi Utamanya Adalah Sebagai Tempat
Perletakan Jalan Raya.
Lapisan Tanah Dasar Adalah Lapisan Tanah Yang Berfungsi Sebagai Tempat
Perletakan Lapis Perkerasan Dan Mendukung Konstruksi Perkerasan Jalan
Diatasnya. Menurut Spesifikasi, Tanah Dasar Adalah Lapisan Paling Atas Dari
Timbunan Badan Jalan Setebal 30 Cm, Yang Mempunyai Persyaratan Tertentu Sesuai
Fungsinya, Yaitu Yang Berkenaan Dengan Kepadatan Dan Daya Dukungnya (Cbr).
Lapisan Tanah Dasar Dapat Berupa Tanah Asli Yang Dipadatkan Jika Tanah Aslinya
Baik, Atau Tanah Urugan Yang Didatangkan Dari Tempat Lain Atau Tanah Yang
Distabilisasi Dan Lain - Lain.
Ditinjau Dari Muka Tanah
Asli, Maka Lapisan Tanah Dasar Dibedakan Atas :
·
Lapisan Tanah Dasar, Tanah Galian.
·
Lapisan Tanah Dasar, Tanah Urugan.
·
Lapisan Tanah Dasar, Tanah Asli.
Kekuatan Dan Keawetan Konstruksi
Perkerasan Jalan Sangat Tergantung Dari Sifat-Sifat Dan Daya Dukung Tanah
Dasar.
Umumnya Persoalan Yang Menyangkut
Tanah Dasar Adalah Sebagai Berikut :
·
Perubahan Bentuk Tetap (Deformasi Permanen) Akibat Beban Lalu Lintas.
·
Sifat Mengembang Dan Menyusutnya Tanah Akibat Perubahan Kadar Air.
·
Daya Dukung Tanah Yang Tidak Merata Akibat Adanya Perbedaan Sifat-Sifat Tanah
Pada Lokasi Yang Berdekatan Atau Akibat Kesalahan Pelaksanaan Misalnya
Kepadatan Yang Kurang Baik.
Lapisan Tanah Dasar (Subgrade)
2. Lapisan
Pondasi Bawah (Subbase Course)
Lapisan Ini Berada Dibawah Lapisan Pondasi Atas Dan Diatas Lapisan Tanah Dasar.
Lapisan Ini Berfungsi Untuk Menyebarkan Beban Dari Lapisan Pondasi Bawah Ke
Lapisan Tanah Dasar, Untuk Menghemat Penggunaan Material Yang Digunakan Pada
Lapisan Pondasi Atas, Karena Biasanya Menggunakan Material Yang Lebih Murah.
Selain Itu Lapisan Pondasi Bawah Juga Berfungsi Untuk Mencegah Partikel Halus
Masuk Kedalam Material Perkerasan Jalan Dan Melindungi Air Agar Tidak Masuk
Kelapisan Dibawahnya.
Lapis Pondasi Bawah
Ini Berfungsi Sebagai :
·
Bagian Dari Konstruksi Perkerasan Untuk Menyebarkan Beban Roda Ke Tanah Dasar.
·
Lapis Peresapan, Agar Air Tanah Tidak Berkumpul Di Pondasi.
·
Lapisan Untuk Mencegah Partikel-Partikel Halus Dari Tanah Dasar Naik Ke Lapis
Pondasi Atas.
·
Lapis Pelindung Lapisan Tanah Dasar Dari Beban Roda-Roda Alat Berat (Akibat
Lemahnya Daya Dukung Tanah Dasar) Pada Awal-Awal Pelaksanaan Pekerjaan.
·
Lapis Pelindung Lapisan Tanah Dasar Dari Pengaruh Cuaca Terutama Hujan.
Jenis Lapis Pondasi Bawah Yang
Umum Dipergunakan Di Indonesia Antara Lain:
1.
Agregat Bergradasi Baik Dapat Dibagi:
-
Sirtu / Pitrun Kelas A
-
Sirtu / Pitrun Kelas B
-
Sirtu / Pitrun Kelas C
2.
Stabilitas
-
Stabilitas Agregat Dengan Semen
-
Stabilitas Agregat Dengan Kapur
-
Stabilitas Tanah Dengan Semen
-
Stabilitas Tanah Dengan Kapur.
3. Lapisan
Pondasi Atas (Base Course)
Lapisan Ini Terletak Dilapisan Dibawah Lapisan Permukaan. Lapisan Ini Terutama
Berfungsi Untuk Menahan Gaya Lintang Akibat Beban Roda Dan Menerus Beban Ke
Lapisan Dibawahnya, Sebagai Bantalan Untuk Lapisan Permukaan Dan Lapisan
Peresapan Untuk Lapisan Pondasi Bawah. Material Yang Digunakan Untuk Lapisan
Ini Diharus Material Dengan Kualitas Yang Tinggi Sehingga Kuat Menahan Beban
Yang Direncanakan.
Lapisan Pondasi Atas Ini Berfungsi Sebagai :
·
Bagian Perkerasan Yang Menahan Gaya Lintang Dari Beban Roda Dan Menyebarkan
Beban Ke Lapisan Di Bawahnya.
·
Bantalan Terhadap Lapisan Permukaan.
Bahan-Bahan Untuk Lapis Pondasi Atas Ini Harus Cukup Kuat Dan Awet Sehingga
Dapat Menahan Beban-Beban Roda.
Dalam Penentuan Bahan Lapis Pondasi Ini Perlu Dipertimbangkan Beberapa Hal
Antara Lain, Kecukupan Bahan Setempat, Harga, Volume Pekerjaan Dan Jarak Angkut
Bahan Ke Lapangan.
Jenis Lapis Pondasi Atas Yang
Umum Dipergunakan Di Indonesia Antara Lain:
3.
Agregat Bergradasi Baik Dapat Dibagi:
-
Batu Pecah Kelas A
-
Batu Pecah Kelas B
-
Batu Pecah Kelas C
4.
Pondasi Macadam
5.
Pondasi Telford
6.
Penetrasi Macadam (Lapen)
7. Aspal
Buton Pondasi (Asphalt Concrete Base / Asphalt Treated Base)
8.
Stabilitas Terdiri Atas :
-
Stabilitas Agregat Dengan Semen
-
Stabilitas Agregat Dengan Kapur
-
Stabilitas Agregat Dengan Aspal
4. Lapisan
Permukaan (Surface Course)
Lapisan Permukaan Terletak Paling Atas Pada Suatu Jalan Raya. Lapisan Yang
Biasanya Kita Pijak, Atau Lapisan Yang Bersentuhan Langsung Dengan Ban
Kendaraan. Lapisan Ini Berfungsi Sebagai Penahan Beban Roda. Lapisan Ini
Memiliki Stabilitas Yang Tinggi, Kedap Air Untuk Melindungi Lapisan Dibawahnya
Sehingga Air Mengalir Ke Saluran Di Samping Jalan, Tahan Terhadap Keausan
Akibat Gesekan Rem Kendaraan, Dan Diperuntukkan Untuk Meneruskan Beban
Kendaraan Ke Lapisan Dibawahnya.
Lapisan Permukaan Ini Berfungsi Sebagai :
·
Lapisan Yang Langsung Menahan Akibat Beban Roda Kendaraan.
·
Lapisan Yang Langsung Menahan Gesekan Akibat Rem Kendaraan (Lapisaus).
·
Lapisan Yang Mencegah Air Hujan Yang Jatuh Di Atasnya Tidak Meresap Ke Lapisan
Bawahnya Dan Melemahkan Lapisan Tersebut.
·
Lapisan Yang Menyebarkan Beban Ke Lapisan Bawah, Sehingga Dapat Dipikul Oleh
Lapisan Di Bawahnya.
Apabila Diperlukan, Dapat Juga Dipasang Suatu Lapis Penutup / Lapis Aus
(Wearing Course) Di Atas Lapis Permukaan Tersebut.
Fungsi Lapis Aus Ini Adalah Sebagai Lapisan Pelindung Bagi Lapis Permukaan
Untuk Mencegah Masuknya Air Dan Untuk Memberikankekesatan (Skid Resistance)
Permukaan Jalan. Apis Aus Tidak Diperhitungkan Ikut Memikul Beban Lalu Lintas.
Jenis Lapis Yang Digunakan Di
Indonesia Antara Lain :
·
Lapisan Bersifat Nonstructural, Yang Berfungsi Sebagai Lapisan Aus Dan Kedap
Air Antara Lain:
B. Burtu
(Laburan Aspal Satu Lapis), Merupakan Lapis Penutup Yang Terdiri Dari Lapisan
Aspal Yang Ditaburi Dengan Satu Lapis Agregat Bergradasi Seragam, Dengan Tebal
Maksimum 2 Cm
C.
Burda (Laburan Aspal Dua Lapis), Merupakan Lapis Penutup Yang Terdiri Lapisan
Aspal Ditaburi Agregat Yang Dilakukan Dua Kali Berturut – Turutdengan Tebal
Maksimum3,5 Cm
D. Latsir
(Lapis Tipis Aspal Pasir), Merupakan Lapis Penutup Yang Terdiri Dari Lapis
Aspal Dan Pasir Alam Bergradasi Menerus Dicampur, Dihampar Dan Dipadatkan Pada
Suhu Pada Suhu Tertentudengan Tebal Padat 1- 2 Cm
E.
Buras (Laburan Aspal), Merupakan Lapisan Penutup Terdiri Dari Lapisan Aspal
Taburan Pasir Dengan Ukuran Butir Maksimum 3/8 Inch
F.
Latasbum (Lapis Tipis Asbuton Murni), Merupakan Lapisan Penutup Yang Terdiri
Dari Campuran Asbuton Dan Bahan Pelunak Dengan Perbandingan Tertentu Yang
Dicampur Secara Dingin Dengan Tebal Padat Maksimum 1 Cm
G.
Lataston (Lapis Tipis Aspal Beton), Dikenal Dengan Nama Hot Roll Sheet (Hrs).
·
Lapis Bersifat Struktur, Berfungsi Sebagai Lapisan Yang Menahan &
Menyebarkan Beban Roda
A.
Penetrasi Macadam ( Lapen)
B.
Lasbutag
C.
Laston
3. Composite Pavement (Gabungan Rigid Dan Flexible
Pavement)
Perkerasan Komposit Merupakan Gabungan Konstruksi Perkerasan Kaku (Rigid Pavement) Dan Lapisan Perkerasan Lentur (Flexible Pavement) Di Atasnya, Dimana Kedua Jenis Perkerasan Ini Bekerja Sama Dalam Memilkul Beban Lalu Lintas. Untuk Ini Maka Perlua Ada Persyaratan Ketebalan Perkerasan Aspal Agar Mempunyai Kekakuan Yang Cukup Serta Dapat Mencegah Retak Refleksi Dari Perkerasan Beton Di Bawahnya.
Konstruksi Ini Umumnya Mempunyai Tingkat Kenyamanan Yang Lebih Baik Bagi
Pengendara Dibandingkan Dengan Konstruksi Perkerasan Beton Semen Sebagai Lapis
Permukaan Tanpa Aspal.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar