Perkerasan Lentur Adalah Perkerasan Yang Menggunakan Bahan Ikat Aspal, Yang Sifatnya Lentur Terutama Pada Saat Panas. Aspal Dan Agregat Ditebar Dijalan Pada Suhu Tinggi (Sekitar 100 0c).
Pada Umumnya, Perkerasan Jalan Lentur Terdiri Dari Beberapa Jenis Lapisan
Perkerasan Yang Tersusun Dari Bawah Ke Atas,Sebagai Berikut :
1) Lapisan Tanah Dasar (Sub Grade)
2) Lapisan Pondasi Bawah (Subbase Course)
3) Lapisan Pondasi Atas (Base Course)
4) Lapisan Permukaan / Penutup (Surface
Course)
1)
Lapisan Tanah Dasar (Subgrade)
Lapisan Tanah Dasar Bagian Terbawah Dari Perkerasan Jalan Raya. Apabila Kondisi
Tanah Pada Lokasi Pembangunan Jalan Mempunyai Spesifikasi Yang Direncanakan
Makan Tanah Tersebut Akan Langsung Dipadatkan Dan Digunakan. Tebalnya Berkisar
Antara 50 – 100 Cm. Fungsi Utamanya Adalah Sebagai Tempat Perletakan Jalan
Raya.
Lapisan Tanah Dasar Adalah Lapisan Tanah Yang Berfungsi Sebagai Tempat
Perletakan Lapis Perkerasan Dan Mendukung Konstruksi Perkerasan Jalan
Diatasnya. Menurut Spesifikasi, Tanah Dasar Adalah Lapisan Paling Atas Dari
Timbunan Badan Jalan Setebal 30 Cm, Yang Mempunyai Persyaratan Tertentu Sesuai
Fungsinya, Yaitu Yang Berkenaan Dengan Kepadatan Dan Daya Dukungnya (Cbr).
Lapisan Tanah Dasar Dapat Berupa Tanah Asli Yang Dipadatkan Jika Tanah Aslinya
Baik, Atau Tanah Urugan Yang Didatangkan Dari Tempat Lain Atau Tanah Yang
Distabilisasi Dan Lain - Lain.
Ditinjau Dari Muka Tanah Asli, Maka Lapisan Tanah
Dasar Dibedakan Atas :
· Lapisan Tanah
Dasar, Tanah Galian.
· Lapisan Tanah
Dasar, Tanah Urugan.
· Lapisan Tanah
Dasar, Tanah Asli.
Kekuatan
Dan Keawetan Konstruksi Perkerasan Jalan Sangat Tergantung Dari Sifat-Sifat Dan
Daya Dukung Tanah Dasar.
Umumnya Persoalan Yang Menyangkut Tanah Dasar Adalah Sebagai
Berikut :
· Perubahan
Bentuk Tetap (Deformasi Permanen) Akibat Beban Lalu Lintas.
· Sifat
Mengembang Dan Menyusutnya Tanah Akibat Perubahan Kadar Air.
· Daya
Dukung Tanah Yang Tidak Merata Akibat Adanya Perbedaan Sifat-Sifat Tanah Pada
Lokasi Yang Berdekatan Atau Akibat Kesalahan Pelaksanaan Misalnya Kepadatan
Yang Kurang Baik.
Lapisan Tanah Dasar (Subgrade)
2) Lapisan Pondasi Bawah (Subbase
Course)
Lapisan Ini Berada Dibawah Lapisan Pondasi Atas Dan Diatas Lapisan Tanah Dasar.
Lapisan Ini Berfungsi Untuk Menyebarkan Beban Dari Lapisan Pondasi Bawah Ke
Lapisan Tanah Dasar, Untuk Menghemat Penggunaan Material Yang Digunakan Pada Lapisan
Pondasi Atas, Karena Biasanya Menggunakan Material Yang Lebih Murah. Selain Itu
Lapisan Pondasi Bawah Juga Berfungsi Untuk Mencegah Partikel Halus Masuk
Kedalam Material Perkerasan Jalan Dan Melindungi Air Agar Tidak Masuk Kelapisan
Dibawahnya.
Lapis Pondasi Bawah Ini Berfungsi Sebagai :
· Bagian
Dari Konstruksi Perkerasan Untuk Menyebarkan Beban Roda Ke Tanah Dasar.
· Lapis
Peresapan, Agar Air Tanah Tidak Berkumpul Di Pondasi.
· Lapisan
Untuk Mencegah Partikel-Partikel Halus Dari Tanah Dasar Naik Ke Lapis Pondasi
Atas.
· Lapis
Pelindung Lapisan Tanah Dasar Dari Beban Roda-Roda Alat Berat (Akibat Lemahnya
Daya Dukung Tanah Dasar) Pada Awal-Awal Pelaksanaan Pekerjaan.
· Lapis
Pelindung Lapisan Tanah Dasar Dari Pengaruh Cuaca Terutama Hujan.
Jenis Lapis Pondasi Bawah Yang Umum Dipergunakan Di
Indonesia Antara Lain:
1. Agregat Bergradasi Baik Dapat
Dibagi:
- Sirtu /
Pitrun Kelas A
- Sirtu /
Pitrun Kelas B
- Sirtu /
Pitrun Kelas C
2. Stabilitas
- Stabilitas
Agregat Dengan Semen
- Stabilitas
Agregat Dengan Kapur
- Stabilitas
Tanah Dengan Semen
- Stabilitas
Tanah Dengan Kapur.
3) Lapisan Pondasi Atas (Base Course)
Lapisan Ini Terletak Dilapisan Dibawah Lapisan Permukaan. Lapisan Ini Terutama
Berfungsi Untuk Menahan Gaya Lintang Akibat Beban Roda Dan Menerus Beban Ke
Lapisan Dibawahnya, Sebagai Bantalan Untuk Lapisan Permukaan Dan Lapisan
Peresapan Untuk Lapisan Pondasi Bawah. Material Yang Digunakan Untuk Lapisan
Ini Diharus Material Dengan Kualitas Yang Tinggi Sehingga Kuat Menahan Beban
Yang Direncanakan.
Lapisan Pondasi Atas Ini Berfungsi Sebagai :
-
Bagian Perkerasan Yang Menahan Gaya Lintang Dari
Beban Roda Dan Menyebarkan Beban Ke Lapisan Di Bawahnya.
-
Bantalan Terhadap Lapisan Permukaan.
-
Bahan-Bahan Untuk Lapis Pondasi Atas Ini Harus
Cukup Kuat Dan Awet Sehingga Dapat Menahan Beban-Beban Roda.
Dalam
Penentuan Bahan Lapis Pondasi Ini Perlu Dipertimbangkan Beberapa Hal Antara
Lain, Kecukupan Bahan Setempat, Harga, Volume Pekerjaan Dan Jarak Angkut Bahan
Ke Lapangan.
Jenis Lapis Pondasi Atas Yang Umum Dipergunakan Di Indonesia
Antara Lain:
1)
Agregat Bergradasi Baik Dapat Dibagi:
-
Batu Pecah Kelas A
-
Batu Pecah Kelas B
-
Batu Pecah Kelas C
2)
Pondasi Macadam
3)
Pondasi Telford
4)
Penetrasi Macadam (Lapen)
5)
Aspal Buton Pondasi (Asphalt Concrete Base /
Asphalt Treated Base)
6)
Stabilitas Terdiri Atas :
-
Stabilitas Agregat Dengan Semen
-
Stabilitas Agregat Dengan Kapur
-
Stabilitas Agregat Dengan Aspal
4. Lapisan Permukaan (Surface Course)
Lapisan Permukaan Terletak Paling Atas Pada Suatu Jalan Raya. Lapisan Yang
Biasanya Kita Pijak, Atau Lapisan Yang Bersentuhan Langsung Dengan Ban
Kendaraan. Lapisan Ini Berfungsi Sebagai Penahan Beban Roda. Lapisan Ini
Memiliki Stabilitas Yang Tinggi, Kedap Air Untuk Melindungi Lapisan Dibawahnya
Sehingga Air Mengalir Ke Saluran Di Samping Jalan, Tahan Terhadap Keausan
Akibat Gesekan Rem Kendaraan, Dan Diperuntukkan Untuk Meneruskan Beban
Kendaraan Ke Lapisan Dibawahnya.
Lapisan Permukaan Ini Berfungsi Sebagai :
-
Lapisan Yang Langsung Menahan Akibat Beban Roda
Kendaraan.
-
Lapisan Yang Langsung Menahan Gesekan Akibat Rem
Kendaraan (Lapisaus).
-
Lapisan Yang Mencegah Air Hujan Yang Jatuh Di
Atasnya Tidak Meresap Ke Lapisan Bawahnya Dan Melemahkan Lapisan Tersebut.
-
Lapisan Yang Menyebarkan Beban Ke Lapisan Bawah,
Sehingga Dapat Dipikul Oleh Lapisan Di Bawahnya.
Apabila Diperlukan, Dapat Juga Dipasang Suatu Lapis Penutup / Lapis Aus
(Wearing Course) Di Atas Lapis Permukaan Tersebut.
Fungsi Lapis Aus Ini Adalah Sebagai Lapisan Pelindung Bagi Lapis Permukaan
Untuk Mencegah Masuknya Air Dan Untuk Memberikankekesatan (Skid Resistance)
Permukaan Jalan. Apis Aus Tidak Diperhitungkan Ikut Memikul Beban Lalu Lintas.
Jenis Lapis Yang Digunakan Di Indonesia Antara Lain :
1.
Lapisan Bersifat Nonstructural, Yang Berfungsi
Sebagai Lapisan Aus Dan Kedap Air Antara Lain:
a.
Burtu (Laburan Aspal Satu Lapis), Merupakan
Lapis Penutup Yang Terdiri Dari Lapisan Aspal Yang Ditaburi Dengan Satu Lapis
Agregat Bergradasi Seragam, Dengan Tebal Maksimum 2 Cm
b.
Burda (Laburan Aspal Dua Lapis), Merupakan Lapis
Penutup Yang Terdiri Lapisan Aspal Ditaburi Agregat Yang Dilakukan Dua Kali
Berturut – Turutdengan Tebal Maksimum3,5 Cm
c.
Latsir (Lapis Tipis Aspal Pasir), Merupakan
Lapis Penutup Yang Terdiri Dari Lapis Aspal Dan Pasir Alam Bergradasi Menerus
Dicampur, Dihampar Dan Dipadatkan Pada Suhu Pada Suhu Tertentudengan Tebal
Padat 1- 2 Cm
d.
Buras (Laburan Aspal), Merupakan Lapisan Penutup
Terdiri Dari Lapisan Aspal Taburan Pasir Dengan Ukuran Butir Maksimum 3/8
Inch
e.
Latasbum (Lapis Tipis Asbuton Murni), Merupakan
Lapisan Penutup Yang Terdiri Dari Campuran Asbuton Dan Bahan Pelunak Dengan
Perbandingan Tertentu Yang Dicampur Secara Dingin Dengan Tebal Padat Maksimum 1
Cm
f.
Lataston (Lapis Tipis Aspal Beton), Dikenal
Dengan Nama Hot Roll Sheet (Hrs).
2.
Lapis Bersifat Struktur, Berfungsi Sebagai
Lapisan Yang Menahan & Menyebarkan Beban Roda
a.
Penetrasi Macadam ( Lapen)
b.
Lasbutag
c.
Laston
2.
Rigid Pavement (Perkerasan Kaku)
Suatu perkerasan yang menggunakan
semen sebagai bahan pengikat terhadap material lainnya dan cenderung bersifat
kaku karena memiliki modulus elastisitas yang sangat tinggi. Perkerasan tipe
ini umumnya juga terdiri dari 4 lapisan yaitu lapisan permukaan beton, lapisan
pondasi atas, lapisan pondasi bawah dan lapisan tanah dasar. Hanya saja untuk
tipe perkerasan ini lapisan pondasinya berfungsi sebagai drainase untuk
mengalirkan air. Tipe perkerasan ini biasanya direncanakan untuk lalu lintas
yang tinggi
Perkerasan Kakau/Rigit Adalah Perkerasan Yang Menggunakan
Bahan Ikat Aspal, Yang Sifatnya Kaku. Perkerasan Kaku Berupa Plat Beton Dengan
Atau Tanpa Tulangan Diatas Tanah Dasar Dengan Atau Tanpa Pondasi Bawah. Beban
Lalu Lintas Diteruskan Keatas Plat Beton. Perkerasan Kaku Bisa Dikelompokkan
Atas:
1)
Perkerasan Kaku Semen Yang Terbuat
Dari Beton Semen Baik Yang Bertulang Ataupun Tanpa Tulangan
2)
Perkerasan Kaku Komposit Yang Terbuat
Dari Komposit Sehingga Lebih Kuat Dari Perkerasan Semen, Sehingga Baik Untuk Digunakan Pada Landasan Pesawat
Udara Di Bandara.
Perkerasan Jalan Beton Semen Atau Secara Umum Disebut Perkerasan Kaku, Terdiri
Atas Plat (Slab) Beton Semen Sebagai Lapis Pondasi Dan Lapis Pondasi Bawah
(Bisa Juga Tidak Ada) Di Atas Tanah Dasar. Dalam Konstruksi Perkerasan Kaku,
Plat Beton Sering Disebut Sebagai Lapis Pondasi Karena Dimungkinkan Masih
Adanya Lapisan Aspal Beton Di Atasnya Yang Berfungsi Sebagai Lapis Permukaan.
Perkerasan Beton Yang Kaku Dan Memiliki Modulus Elastisitas Yang Tinggi, Akan
Mendistribusikan Beban Ke Bidang Tanah Dasar Yang Cukup Luas Sehingga Bagian
Terbesar Dari Kapasitas Struktur Perkerasan Diperoleh Dari Plat Beton Sendiri.
Hal Ini Berbeda Dengan Perkerasan Lentur Dimana Kekuatan Perkerasan Diperoleh
Dari Tebal Lapis Pondasi Bawah, Lapis Pondasi Dan Lapis Permukaan.
Karena Yang Paling Penting Adalah Mengetahui Kapasitas Struktur Yang Menanggung
Beban, Maka Faktor Yang Paling Diperhatikan Dalam Perencanaan Tebal Perkerasan
Beton Semen Adalah Kekuatan Beton Itu Sendiri. Adanya Beragam Kekuatan Dari
Tanah Dasar Dan Atau Pondasi Hanya Berpengaruh Kecil Terhadap Kapasitas
Struktural Perkerasannya.
Lapis
Pondasi Bawah Jika Digunakan Di Bawah Plat Beton Karena Beberapa Pertimbangan,
Yaitu Antara Lain Untuk Menghindari Terjadinya Pumping, Kendali Terhadap Sistem
Drainasi, Kendali Terhadap Kembang-Susut Yang Terjadi Pada Tanah Dasar Dan
Untuk Menyediakan Lantai Kerja (Working Platform) Untuk Pekerjaan Konstruksi.
Secara Lebih Spesifik, Fungsi Dari Lapis Pondasi Bawah
Adalah :
-
Menyediakan Lapisan Yang Seragam, Stabil Dan
Permanen.
-
Menaikkan Harga Modulus Reaksi Tanah Dasar
(Modulus Of Sub-Grade Reaction = K), Menjadi Modulus Reaksi Gabungan (Modulus
Of Composite Reaction).
-
Mengurangi Kemungkinan Terjadinya Retak-Retak
Pada Plat Beton.
-
Menyediakan Lantai Kerja Bagi Alat-Alat Berat
Selama Masa Konstruksi.
-
Menghindari Terjadinya Pumping, Yaitu Keluarnya
Butir-Butiran Halus Tanah Bersama Air Pada Daerah Sambungan, Retakan Atau Pada
Bagian Pinggir Perkerasan, Akibat Lendutan Atau Gerakan Vertikal Plat Beton
Karena Beban Lalu Lintas, Setelah Adanya Air Bebas Terakumulasi Di Bawah Pelat.
Pemilihan Penggunaan Jenis Perkerasan Kaku Dibandingkan Dengan Perkerasan
Lentur Yang Sudah Lama Dikenal Dan Lebih Sering Digunakan, Dilakukan
Berdasarkan Keuntungan Dan Kerugian Masing-Masing Jenis Perkerasan Tersebut.
· Perkembangan
Perkerasan Kaku
Pada
Awal Mula Rekayasa Jalan Raya, Plat Perkerasan Kaku Dibangun Langsung Di Atas
Tanah Dasar Tanpa Memperhatikan Sama Sekali Jenis Tanah Dasar Dan Kondisi
Drainasenya. Pada Umumnya Dibangun Plat Beton Setebal 6 – 7 Inch. Dengan
Bertambahnya Beban Lalu-Lintas, Khususnya Setelah Perang Dunia Ke Ii, Mulai
Disadari Bahwa Jenis Tanah Dasar Berperan Penting Terhadap Unjuk Kerja
Perkerasan, Terutama Sangat Pengaruh Terhadap Terjadinya Pumping Pada
Perkerasan. Oleh Karena Itu, Untuk Selanjutnya Usaha-Usaha Untuk Mengatasi
Pumping Sangat Penting Untuk Diperhitungkan Dalam Perencanaan.
Pada Periode Sebelumnya, Tidak Biasa Membuat Pelat Beton Dengan Penebalan Di Bagian Ujung / Pinggir Untuk Mengatasi Kondisi Tegangan Struktural Yang Sangat Tinggi Akibat Beban Truk Yang Sering Lewat Di Bagian Pinggir Perkerasan.
Kemudian Setelah Efek Pumping Sering Terjadi Pada Kebanyakan Jalan Raya Dan Jalan Bebas Hambatan, Banyak Dibangun Konstruksi Pekerasan Kaku Yang Lebih Tebal Yaitu Antara 9 – 10 Inch.
Guna
Mempelajari Hubungan Antara Beban Lalu-Lintas Dan Perkerasan Kaku, Pada Tahun
1949 Di Maryland Usa Telah Dibangun Test Roads Atau Jalan Uji Dengan Arahan
Dari Highway Research Board, Yaitu Untuk Mempelajari Dan Mencari Hubungan
Antara Beragam Beban Sumbu Kendaraan Terhadap Unjuk Kerja Perkerasan Kaku.
Perkerasan Beton Pada Jalan Uji Dibangun Setebal Potongan Melintang 9 – 7 – 9
Inch, Jarak Antara Siar Susut 40 Kaki, Sedangkan Jarak Antara Siar Muai 120
Kaki. Untuk Sambungan Memanjang Digunakan Dowel Berdiameter 3/4 Inch Dan
Berjarak 15 Inch Di Bagian Tengah. Perkerasan Beton Uji Ini Diperkuat Dengan
Wire Mesh.
Tujuan Dari Program Jalan Uji Ini Adalah Untuk Mengetahui Efek Pembebanan
Relatif Dan Konfigurasi Tegangan Pada Perkerasan Kaku. Beban Yang Digunakan
Adalah 18.000 Lbs Dan 22.400 Pounds Untuk Sumbu Tunggal Dan 32.000 Serta 44.000
Pounds Pada Sumbu Ganda. Hasil Yang Paling Penting Dari Program Uji Ini Adalah
Bahwa Perkembangan Retak Pada Pelat Beton Adalah Karena Terjadinya Gejala
Pumping. Tegangan Dan Lendutan Yang Diukur Pada Jalan Uji Adalah Akibat Adanya
Pumping.
Selain Itu Dikenal Juga Aasho Road Test Yang Dibangun Di Ottawa, Illinois Pada
Tahun 1950. Salah Satu Hasil Yang Paling Penting Dari Penelitian Pada Jalan Uji
Aasho Ini Adalah Mengenai Indeks Pelayanan. Penemuan Yang Paling Signifikan Adalah
Adanya Hubungan Antara Perubahan Repetisi Beban Terhadap Perubahan Tingkat
Pelayanan Jalan. Pada Jalan Uji Aasho, Tingkat Pelayanan Akhir Diasumsikan
Dengan Angka 1,5 (Tergantung Juga Kinerja Perkerasan Yang Diharapkan),
Sedangkan Tingkat Pelayanan Awal Selalu Kurang Dan 5,0.
· Jenis-Jenis
Perkerasan Jalan Beton Semen
Berdasarkan Adanya Sambungan Dan Tulangan Plat Beton
Perkerasan Kaku, Perkerasan Beton Semen Dapat Diklasifikasikan Menjadi 3 Jenis
Sebagai Berikut :
· Perkerasan
Beton Semen Biasa Dengan Sambungan Tanpa Tulangan Untuk Kendali Retak.
· Perkerasan
Beton Semen Biasa Dengan Sambungan Dengan Tulangan Plat Untuk Kendali Retak.
Untuk Kendali Retak Digunakan Wire Mesh Diantara Siar Dan
Penggunaannya Independen Terhadap Adanya Tulangan Dowel.
· Perkerasan
Beton Bertulang Menerus (Tanpa Sambungan). Tulangan Beton Terdiri Dari Baja
Tulangan Dengan Prosentasi Besi Yang Relatif Cukup Banyak (0,02 % Dari Luas
Penampang Beton).
Pada
Saat Ini, Jenis Perkerasan Beton Semen Yang Populer Dan Banyak Digunakan Di
Negara-Negara Maju Adalah Jenis Perkerasan Beton Bertulang Menerus.
3. Composite
Pavement (Gabungan Rigid Dan Flexible Pavement)
Perkerasan Komposit
Merupakan Gabungan Konstruksi Perkerasan Kaku (Rigid Pavement) Dan Lapisan
Perkerasan Lentur (Flexible Pavement) Di Atasnya, Dimana Kedua Jenis Perkerasan
Ini Bekerja Sama Dalam Memilkul Beban Lalu Lintas. Untuk Ini Maka Perlua Ada
Persyaratan Ketebalan Perkerasan Aspal Agar Mempunyai Kekakuan Yang Cukup Serta
Dapat Mencegah Retak Refleksi Dari Perkerasan Beton Di Bawahnya.
Konstruksi Ini Umumnya Mempunyai Tingkat Kenyamanan Yang Lebih Baik Bagi
Pengendara Dibandingkan Dengan Konstruksi Perkerasan Beton Semen Sebagai Lapis
Permukaan Tanpa Aspal.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar