A. Flexible Pavement
Perkerasan
lentur merupakan perkerasan jalan yang umum dipakai di Indonesia. Konstruksi
perkerasan lentur disebut “lentur” karena konstruksi ini mengizinkan terjadinya
deformasi vertikal akibat beban lalu lintas yang terjadi. Perkerasan lentur
biasanya terdiri dari 3 lapis material konstruksi jalan diatas tanah dasar,
yaitu lapis pondasi bawah, lapis pondasi atas, dan lapis permukaan. (Silvia Sukirman,
2003). Adapun proses yang harus
dilalui adalah sebagai berikut:
1. Pekerjaan
Persiapan (Mobilisasi dan Demobilisasi)
Pekerjaan
Persiapan merupakan pekerjaan awal yang meliputi kegiatan –
kegiatan pendahuluan untuk mendukung permulaan proyek, meliputi:
a. Pembuatan
Job Mix Design
Sebelum pekerjaan utama
dilaksanakan, terlebih dahulu melaksanakan pengambilan sampel bahan dari quary
di sungai yang berada di lokasi setempat atau yang berdekatan dengan lokasi.
Diantaranya batu, pasir dan aspal yang selanjutnya dibawa ke laboratorium job
Mix Formula / Job Mix Design yang akan dipakai sebagai acuan kerja pelaksanaan
proyek.
b. Kantor
Lapangan dan Fasilitasnya
Tahap berikutnya
penentuan lokasi basecamp pembuatan kantor lapangan dan fasilitasnya di lokasi
proyek. Kemudian dilanjutkan dengan mobilisasi peralatan yang diperlukan sesuai
dengan tahapan pelaksanaan pekerjaan.
c. Pengaturan
Arus Transportasi dan Pemeliharaan Terhadap Arus Lalu Lintas
Untuk kelancaran
pelaksanaan pekerjaan, pengaturan arus lalu lintas transportasi dilakukan
dengan pembuatan tanda – tanda lalu lintas yang memadai disetiap kegiatan
lapangan. Bila diperlukan dapat ditempatkan petugas pemberi syarat yang
bertugas mengatur arus lalu lintas pada saat pelaksanaan.
d.
Rekayasa Lapangan
Dengan
petunjuk direksi Teknis survey / rekayasa lapangan dilaksanakan untuk
menentukan kondisi fisik dan structural dari pekerjaan dan fasilitas yang ada
di lokasi pekerjaan. Sehingga dimungkinkan untuk mengadakan peninjauan ulang
terhadap rancangan kerja yang telah diberikan system dan tatacara survey
dikoordinasikan dengan direksi teknis.
e. Material
dan Penyimpanan
Bahan
yang akan digunakan didalam pekerjaan harus memenuhi spesifikasi dan standard yang
berlaku baik ukuran, tipe maupun ketentuan lainnya sesuai petunjuk direksi
teknis. Semua material yang akan digunakan untuk proses pembuatan Asphalt
Concrete diambil dari query sungai setempat, diolah dan dipoolkan di stone
crusher / AMP.
f. Jadwal
Konstruksi
Jadwal
Konstruksi dibuat pihak kontraktor. Diajukan pada direksi teknis untuk dibahas
dan mendapatkan persetujuan pada saat dilaksanakan rapat pendahuluan (Pre
Construction Meeting/PCM).
g. Pelaksanaan
Mobilisasi Peralatan
Dalam pelaksanaan proyek ini mobilisasi
meliputi:
Ø Dump
Truck 8 ton
Ø Dump
Truck 3 – 4m 3,6 ton
Ø Asphalt
finisher
Ø Tandem
Roller
Ø Vibrator
Roller
Ø Wheel
Loader
Ø Excavator
Ø Motor
Grader
Ø Aspal
Spayer
Ø Water
Tanker
Ø Concrete
Mixer
Ø Generator
set
Ø Compressor
Ø Survey
equipment
Ø Pneumatic
type roller (PTR)
Ø Flat
Bed Truck
Ø Water
Pump
Ø Slump
Test
h. Papan
nama proyek
Papan
nama ini digunakan sebagai identitas dan informasi mengenai proyek. Papan nama
dibuat dengan ukuran atas persetujuan direksi pekerjaan.
2. Pekerjaan
Tanah Dasar
a. Jenis
dan Karakteristik Tanah Dasar
Tanah Dasar adalah
permukaan tanah semula atau permukaan galian atau permukaan tanah timbunan,
yang dipadatkan dan merupakan permukaan dasar untuk perletakan bagian-bagian
perkerasan lainnya. Jenis- jenis tanah: Tanah
Liat Koloidal (Colloid), Tanah
liat biasa (clay), Tanah
lumpur (silt), Pasir
halus (fine sand), Pasir
Kasar (Coarse sand), Kerikil
(gravel).
b.
Peralatan Pekerjaan pada Pekerjaan tanah
dasar
Ø Jenis-jenis
alat kerja yang digunakan pada proyek konstruksi
jalan antara lain sebagai berikut:
§ Excavator : alat
yang digunakan untuk pekerjaan galian dan timbunan tanah.
§ Dump
Truck : sebuah truk yang mempunyai bak material
yang dapat di miringkan sehingga untuk menurunkan material hanya dengan
memiringkan bak materialnya.
§ Water
Tank Truck : digunakan
untuk mengangkut air, yang digunakan untuk pekerjaan pemadatan lapis
pondasi agregat kelas A, setelah penghamparan material selesai kemudian di
padatkan dan di siram air menggunakan water tank.
§ Vibratory Roller : alat
pemadat yang menggabungkan antar tekanan dan getaran. Vibratory
roller mempunyai efisiensi pemadatan yang baik.
§ Motor
Grader : bagian dari alat berat, motor
grader berfungsi sebagai alat perata atau penghampar yang biasanya
digunakan untuk meratakan dan membentuk permukaan tanah. Selain itu,
dimanfaatkan pula untuk mencampurkan dan menebarkan tanah dan campuran aspal.
§ Pneumatic
Tire Roller : Alat ini baik sekali digunakan pada
penggilasan bahan yang bergranular, juga baik digunakan pada penggilasan
lapisan hot mix sebagai “penggilas antara”.
§ Tandem
roller : Penggunaan
dari penggilas ini umumnya untuk mendapatkan permukaan yang agak halus,
misalnya pada penggilasan aspal beton dan lain-lain. Sebaiknya tandem
roller jangan digunakan untuk menggilas batu-batuan yang keras dan tajam karena
akan merusak roda-roda penggilasnya.
§ Asphalt
finisher : berfungsi untuk menghamparkan aspal olahan
dari mesin pengolah aspal, serta meratakan lapisannya.
Konstruksi Asphalt Finisher cukup besar sehingga
membutuhkan trailer untuk mengangkut alat ini ke medan proyek.
§ Alat-alat
konvensional : Alat – alat konvensional tersebut
seperti sekop tangan, sapu lidi, garuk, traffic cone,
kereta dorong dan lainnya.
§ Termometer
inframerah : alat untuk mendeteksi temperatur secara
optik—selama objek diamati, radiasi energi sinar inframerah diukur, dan
disajikan sebagai suhu.
§ Aspal
Distributor : truk yang dilengkapi dengan tangki aspal,
pompa, dan batang penyemprot.
§ Core
Drill : alat yang digunakan untuk
menentukan/mengambil sample perkerasan dilapangan sehingga bisa diketahui tebal
perkerasannya serta untuk mengetahui karakteristik campuran perkerasan.
§ Sand
Cone : alat
yang digunakan untuk pemeriksaan kepadatan tanah di lapangan dengan menggunakan
pasir Ottawa sebagai parameter kepadatan yang mempunyai sifat
kering, bersih, keras, tidak memiliki bahan pengikat sehingga
dapat mengalir bebas.
§ Alat
CBR (California Bearing Ratio) :
alat yang digunakan untuk menentukan tebal suatu bagian perkerasan.
c. Metode
Pelaksanaan Pekerjaan
Ø Tanah
Galian: Pekerjaan galian
untuk pelebaran badan jalan tidak hanya mencakup pekerjaan penggalian, namun
juga harus mencakup pekerjaan penanganan, pembuangan atau penumpukan tanah atau
batu atau bahan lain dari jalan dan sekitarnya, dan pekerjaan lain yang
diperlukan untuk penyelesaian pekerjaan galian pelebaran ini. Tahapan
pekerjaan Galian biasa adalah sebagai berikut :
1) Pekerjaan
persiapan
Mempersiapkan
alat bantu kerja, baik peralatan yang digunakan secara manual (termasuk alat
ukur dan alat pelindung diri) atau peralatan bermesin (alat berat) yang perlu
digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan galian.
2) Pelaksanaan
Tanah
digali menggunakan alat excavator dengan ukuran dan kedalaman sesuai gambar
kerja atau petunjuk direksi pekerjaan. Rapikan
dasar galian secara manual dengan alat bantu seperti cangkul, sekop, dan lat
bantu lain yang diperlukan. Pasang
rambu peringatan dan barikade di sekitar lokasi pekerjaan agar tidak
membahayakan para pengguna jalan. Material
hasil galian tanah termasuk hasil pembersihan dan pengupasan lapisan atas tanah
ini harus dibuang ke lokasi pembuangan yang telah disiapkan dan disetujui oleh
Direksi Pekerjaan.
Ø Tanah
Timbunan (Urugan)
Dapat
dipakai dari hasil galian atau cut. Yang termasuk dalam rencana yang juga
disebut Common excavation atau material atau bahan galian yang didatangkan dari
luar daerah pekerjaan disebut Borrow Excavation. Jenis tanahnya yaitu Tanah –
clay, Tanah bercampur batu - rock clay, Pasir + Batu (sirtu) – Granular
material, Batu – hasil dari pemecahan (memakai dynamit) – rock, Pasir – sand.
Cara Pelaksanaannya: Clearing
& grubbing pekerjaan pemotongan pohon- pohon besar/ kecil. Top Soil & Stripping- pembuangan
humus- humus/ lapisan atas, akar- akar kayu dan umumnya setebal 10-30 cm. Compaction of foundation of Embankment. Pemadatan tanah dasar sebelum dilaksanakan
penimbunan. Lapisan ini perlu
di test (density- test of proof rolling test) baru diteruskan pekerjaan
selanjutnya- penimbunan. Penimbunan
dilaksanakan lapis demi lapis/ layer by layer setebal ± 20 cm dan didapatkan
dibawah 1.00 dari sub-grade pengetesan (density test dapat dilaksanakan setiap
3 lapis, jadi setiap lapisnya cukup dengan test proof rolling).
d. Pengendalian
Mutu Pekerjaan
1. Pengendalian
mutu bahan: Jumlah
pengujian yang diperlukan untuk persetujuan awal mutu bahan paling sedikit 3
contoh yang mewakili sumber bahan yang diusulkan, yang dipilih mewakili rentang
mutu bahan yang mungkin terdapat pada sumber bahan.
2. Ketentuan
kepadatan untuk timbunan tanah
§ Lapisan
tanah yang lebih dalam dari 30 cm di bawah elevasi tanah dasar harus dipadatkan
sampai 95 % dari kepadatan kering maksimum yang ditentukan sesuai SNI
03-1742-1989.
§ Lapisan
tanah pada kedalaman 30 cm atau kurang dari elevasi tanah dasar harus
dipadatkan sampai dengan 100 % dari kepadatan kering maksimum yang ditentukan
sesuai dengan SNI 03-1742-1989.
§ Pengujian
kepadatan harus dilakukan pada setiap lapis timbunan yang dipadatkan sesuai
dengan SNI 03-2828-1992 dan bila hasil setiap pengujian menunjukkan kepadatan
kurang dari yang disyaratkan maka Kontraktor harus memperbaiki.
§ Untuk
timbunan, paling sedikit 1 rangkaian pengujian bahan yang lengkap harus
dilakukan untuk setiap 1.000 m3 bahan timbunan yang dihampar.
3. Kriteria
pemadatan untuk timbunan batu : Penghamparan
dan pemadatan timbunan batu harus dilaksanakan dengan menggunakan penggilas berkisi
(grid) atau pemadat bervibrasi atau peralatan berat lainnya yang serupa.
Pemadatan harus dilaksanakan dalam arah memanjang sepanjang timbunan, dimulai
pada tepi luar dan bergerak ke arah sumbu jalan, dan harus dilanjutkan sampai
tidak ada gerakan yang tampak di bawah peralatan berat.
4. Percobaan
pemadatan : Percobaan
lapangan harus dilaksanakan dengan variasi jumlah lintasan peralatan pemadat
dan kadar air sampai kepadatan yang disyaratkan tercapai. Hasil percobaan
lapangan ini selanjutnya harus digunakan dalam menetapkan jumlah lintasan,
jenis peralatan pemadat dan kadar air untuk seluruh pemadatan berikutnya.
3. Pekerjaan
Lapis Pondasi Bawah
Ø Jenis
dan Karakteristik Pondasi Bawah : lapisan
perkerasan yang terletak di atas lapisan tanah dasar dan di bawah lapis pondasi
atas. Lapis pondasi bawah ini berfungsi sebagai:
§ Bagian
dari konstruksi perkerasan untuk menyebarkan beban roda ke tanah dasar.
§ Lapis
peresapan, agar air tanah tidak berkumpul di pondasi.
§ Lapisan
untuk mencegah partikel-partikel halus dari tanah dasar naik ke lapis pondasi
atas.
§ Lapis
pelindung lapisan tanah dasar dari beban roda-roda alat berat (akibat lemahnya
daya dukung tanah dasar) pada awal-awal pelaksanaan pekerjaan.
§ Lapis
pelindung lapisan tanah dasar dari pengaruh cuaca terutama hujan.
Ø Metode
Pelaksanaan Pekerjaan : Sesudah
lapisan sub-grade ini betul- betul telah memenuhi syarat- syarat evalasi dan
kepadatan kita akan mulai pekerjaan sub-base course. Terlebih dahulu kita
tentukan lagi patok- patoknya. Untuk mencapai ketebalan yang dikehendaki. Titik
yang diperlukan minimum: 5 titik menurut potongan melintang (X – section) dan
dengan jarak maksimum 25meter menurut potongan memanjang atau profil. Cara
pengamparan: Setelah selesai pemasangan patok- patok untuk menentukan
ketinggian/ ketebalannya maka kita dapat mendatangkan material seb-base ini
kelapangan. Patok- patok itu dipasang harus cukup kuat, dan kita lindungi
sekelilingnya dengan material sub-base tersebut ± ø 30 cm. Cara pemadatan:
Prinsip pemadatan harus dimulai dari pinggir/ dari rendah ke tengah /tinggi.
Setelah kita ratakan permukaan dengan motor grader. Pemadatan pertama kita
laksanakan dengan road roller (MacAdam Roller atau Tandem Roller). Selanjutnya
dengan Tire Roller dimana sambil ikut memadatkan pada waktu/ keadaan memerlukan
sambil menyiram. Untuk menyelesaikan pemadatan kita pakai sebaiknya Mac Adam
Roller. Sudah cukup padat, melihat dengan pandangan mata pertama kali
(pengalaman). Sebelumnya meneruskan pekerjaan selanjutnya mencetak elevasi
(oleh surveyor) dan kepadatan. Density Test oleh Soil Material Enginer/
Laboratorium. Apabila sudah memenuhi syarat untuk hal kedua ini (elevasi dan
kepadatannya) secara tertulis baru dapat dilaksanakan pekerjaan berikutnya/
base course.
Ø Pengendalian
Mutu Pekerjaan
o
Kekuatan agregat abrasi
o
Analisa saringan Batas cair (atterberg
limit)
o
Sand eguialent
o
Indeks kepipihan
o
Prosentase satu bidang pecah CBR
Laboratorium
o
Sand cone
4. Pekerjaan
Lapis Pondasi Atas
Ø Jenis
dan Karakteristik Pondasi Bawah: lapisan
perkerasan yang terletak di antara lapis pondasi bawah dan lapis permukaan.
Ø Metode
Pelaksanaan Pekerjaan : Seperti
yang diuraikan pada pekerjaan sub-base course pekerjaan base course prinsipnya
sama saja. Yaitu:
v Permukaan
sub- base course harus sudah rata dan padat.
v Dipasang
patok- patok untuk pedoman ketinggiannya (dalam arah melintang 5 titik dan arah
memanjang dengan jarak maksimal setiap 25 m) sesuai dengan station X-section.
v Dengan
mengetahui volume dari truck, maka didapatkan setiap jarak tertentu volumenya
yang diperlukan.
v Toleransi
ketinggian diambil ± 1 cm, dimana menurut pengalaman waktu pengamparannya
dilebihkan dari tinggi yang diperlukan Ump. : tebal 15 cm padat, sebelum
dipadatkan kita ampar tebalnya 16.5- 17.50. Ini jangan lupa bahwa lebih kering akan
banyak susut/ turunnya daripada materialnya basah. Menurut pengalaman dengan
cara itu kita telah mendapatkan ketinggian dalam ketentuan (toleransi) dan
mengurangi segregation.
v Sesudah
tersedia dilapangan kerja dengan volume yang diperlukan barulah kita
apreading/ampar dan grading/ratakan, sesudah rata kelihatannya baru kita
padatkan (pertama dengan Mac Adam Roller atau Tandem Roller, dimana biasanya
dapat dilihat mana yang rendah dan tinggi perlu kita tambah/kurangi. Setelah
kira-kira rata lagi baru selanjutnya kita padatkan pakai Tire Roller sambil
disiram
v Untuk
finishing, lebih baik dipadatkan pakai Mac Adam Roller lagi.
v Setelah
rata dan padat tentu dengan pengecekan oleh surveyor (Check level/permukaan)
dan kepadatannya oleh Soil Material Enginer (Density test) dengan data
tertulis, baru pekerjaan selanjutnya dilanjutkan ke pekerjaan Prime-Coat.
B. Rigid Pavement
Perkerasan jalan beton
semen atau perkerasan kaku, terdiri dari plat beton semen, dengan atau tanpa
lapisan pondasi bawah, di atas tanah dasar. Dalam konstruksi perkerasan kaku,
plat beton semen sering juga dianggap sebagai lapis pondasi, kalau di atasnya
masih ada lapisan aspal.
Adapun tahapan-tahapan yang harus dilalui adalah sebagai berikut:
1. Penyiapan Tanah Dasar Dan Lapis
Pondasi Bawah
a) Pembentukan Permukaan : Persyaratan
tanah dasar untuk perkerasan kaku sama dengan persyaratan tanah dasar untuk
perkerasan lentur, baik mengenai daya dukung, kepadatan maupun kerataannya. Lapis pondasi bawah untuk perkerasan kaku
dapat berupa lean concrete (beton kurus), atau bahan berbutir yang bisa berupa
agregat atau lapisan pasir (sand bedding). Lapis pondasi bawah tidak
dimaksudkan untuk ikut menahan beban lalu lintas, tetapi lebih berfungsi
sebagai lantai kerja dan sebagai fasilitas drainase agar air dapat bebas
bergerak di bawah plat beton tanpa mengerosi butir-butir tanah yang membentuk
tanah dasar. Oleh karena itu biasanya lapis pondasi bawah dari bahan berbutir
harus memenuhi persyaratan sebagai filter material. Persiapan penting yang harus dilakukan
sebelum penghamparan plat beton meliputi berbagai hal seperti membentuk,
membuat penyesuaian-penyesuaian seperlunya pada permukaan tanah dasar atau
lapis pondasi bawah, dan bila perlu, menambahkan air dan memadatkan kembali
permukaan disesuaikan dengan alinyemen dan potongan melintang.
b)
Persyaratan dan Pemeriksaan Bentuk Akhir: Sebelum
dilakukan penghamparan beton, tanah dasar atau lapisan pondasi bawah diperiksa
kepadatan dan bentuk penampang melintangnya. Permukaan
lapisan yang akan dicor beton harus senantiasa bebas dari benda-benda asing,
sisa-sisa beton, dan kotoran-kotoran lainnya.
c)
Pemasangan Membran Kedap Air: Membran
kedap air harus terdiri dari lembaran plastik yang kedap air setebal 125 micron
yang berguna agar air semen dari plat beton yang dicor tidak meresap ke dalam
lapisan di bawahnya, dan juga untuk mencegah adanya ikatan antara plat beton
dengan lapis pondasi bawah yang akan mengakibatkan terjadinya retak-retak
2.
ACUAN
Ø Persyaratan
Acuan (bekisting / form) yang digunakan harus
cukup kuat untuk menahan beban-beban selama pelaksanaan. Kekuatan acuan yang
terbuat dari baja lurus, harus diuji, dan harus memenuhi persyaratan bahwa
acuan harus tidak melendut lebih besar dari 6,4 mm (1/4 inch) bila diuji
sebagai balok biasa dengan bentang 3 m (10 ft) dan beban yang sama dengan berat
mesin penghampar atau peralatan pelaksanaan lainnya yang mungkin akan bergerak
di atasnya. Tebal baja yang
biasanya digunakan adalah 6,4 mm (1/4 inch) dan 8 mm (5/16 inch). Bila acuan
harus mendukung alat penghampar beton yang berat, ketebalannya tidak boleh
kurang dari 8 mm (5/16 inch). Dianjurkan agar acuan mempunyai tinggi yang sama
dengan tebal rencana pelat beton dan lebar dasar acuan sama dengan 0,75 kali
tebal pelat beton tapi kurang dari 200 mm (8 inch). Acuan harus dipasang sedemikian
rupa sehingga cukup kokoh, tidak melentur atau turun akibat tumbukan dan
getaran alat penghampar dan alat pemadat. Lebar flens penguat yang dipasang
pada dasar acuan harus menonjol keluar dari acuan tidak kurang dari 2/3 tinggi
acuan. Dalam
pemeriksaan kelurusan dan kerataan acuan variasi kerataan bidang atas acuan
tidak boleh lebih dari 0,32 cm (1/8 inch) untuk setiap 3 m (10 ft) panjang dan
kerataan bidang dalam acuan tidak boleh lebih dari 0,64 cm (1/4 inch) untuk
setiap 3 m (10 ft) panjang. Ujung-ujung
acuan yang berdampingan harus mempunyai sistem penguncian untuk menyambung dan
mengikat erat acuan-acuan tersebut. Pada lengkungan dengan jari-jari kecil
dianjurkan untuk menggunakan acuan yang dapat dibengkokkan (flexible
form) atau acuan melengkung. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang relatif kecil, yang
bersifat padat karya, maka acuan dari kayu dapat digunakan, untuk alat perata
dapat menggunakan vibrator perata biasa (besi profil yang dilengkapi mesin
penggetar dan ditarik tenaga manusia). Kayu untuk keperluan ini dibuat dari
kayu yang cukup kuat dengan baja siku dipasang di atasnya, dengan angkur
pemegang setiap 0,5 meter.
Ø Pemasangan Acuan
Pemasangan acuan baja maupun kayu
pada prinsipnya harus mengikuti ketentuan-ketentuan di bawah ini.
·
Pondasi
acuan harus dipadatkan dan dibentuk sesuai dengan alinyemen dan ketinggian
jalan yang bersangkutan sehingga acuan yang dipasang dapat disangga secara
seragam pada seluruh panjangnya dan terletak pada elevasi yang benar.
·
Pembuatan
galian untuk meletakkan acuan pada ketinggian yang tepat, sebaiknva dilakukan,
dengan cara mengupas / mengeruk. Bekas galian di kiri dan kanan pondasi acuan,
harus diisi dan dipadatkan kembali. Alinyemen acuan baru harus diperiksa dan
bila perlu diperbaiki memanjang penghamparan beton.
·
Bila
terdapat acuan yang rusak atau sesudah perbaikan pondasi yang tidak stabil,
acuan harus disetel kembali. Acuan harus dipasang cukup jauh di depan tempat
penghamparan beton sehingga memungkinkan pemeriksaan dan perbaikan acuan tanpa mengganggu
kelancaran penghamparan beton.
·
Acuan
dipasang pada posisi yang benar, dan tanah dasar atau lapis pondasi bawah pada
kedua sisi luar dan dalam harus dipadatkan dengan baik menggunakan alat pemadat
mesin atau manual. Acuan harus disangga pada tempatnya, paling sedikit setiap 3
m (10 ft).
Ø Pembongkaran Acuan
Acuan harus tetap dipasang selama
paling sedikit 8 jam setelah penghamparan beton. Setelah acuan dibongkar, permukaan beton yang terbuka
harus segera dirawat.
3.
BAHAN
Ø Semen
a) Semen harus merupakan semen
portland jenis I, II atau III sesuai dengan AASHTO M 85.
b) Kecuali diperkenankan lain, maka
hanya produk dari satu pabrik atau satu jenis merk semen portland tertentu yang
harus digunakan di proyek.
Ø Air
Air yang digunakan dalam
pencampuran, perawatan atau penggunaan-penggunaan tertentu lainnya harus bersih
dan bebas dari bahan-bahan yang merugikan seperti minyak, garam, asam, alkali,
gula atau bahan-bahan organik. Air harus diuji sesuai dengan dan harus memenuhi
persyaratan AASHTO T 26.
4. PENGENDALIAN MUTU Dl LAPANGAN
Ø Pengujian untuk kelecakan (workability): Satu atau
lebih pengujian "slump", harus dilaksanakan pada setiap takaran beton
yang dihasilkan.
Ø Pengujian kuat tekan: Kontraktor harus melaksanakan tidak kurang dari 1 pengujian kuat tekan
untuk setiap 60 m3 beton yang dicor. Setiap pengujian harus
termasuk 3 contoh yang identik untuk diuji pada umur 3, 7 dan 28 hari.
Ø Pengujian tambahan: Kontraktor harus melaksanakan pengujian tambahan yang diperlukan untuk
menentukan mutu bahan atau campuran atau pekerjaan beton akhir, pengujian
tambahan tersebut meliputi :
·
Pengujian yang tidak merusak menggunakan
"sclerometer" atau perangkat penguji lainnya.
·
Pengambilan dan pengujian benda uji inti (core) beton.
·
Pengujian lainnya sebagaimana ditentukan secara
khusus.
5.
PENGECORAN DAN
PENYELESAIAN AKHIR BETON
Ø Pengecoran
a. Peralatan Pengecoran: harus mampu mengalirkan adukan beton dari mesin
pengaduk atau alat pengangkut campuran beton dan menuangkannya ke setiap tempat
tanpa terjadi pemisahan butir (segregasi) dan tanpa merusak
permukaan yang dihampar. Pada pekerjaan besar, pengecoran seringkali menuntut
penggunaan ulir (screw), ban berjalan (belt), atau
wadah (hopper) sebagai alat penghampar adukan.
b. Keadaan Khusus: Apabila lebar penghamparan tidak sama (misal pada jalan masuk / ramp,
persimpangan), maka metoda pengecoran yang biasa tidak selalu dapat diterapkan.
Untuk keadaan demikian, perlu diperhatikan agar untuk mencapai kedudukan akhir,
campuran beton jangan dituang secara sembarangan dengan didorong atau
digetarkan. Pengecoran secara manual mungkin perlu dilakukan, untuk
menghindarkan pemisahan butir.
Ø Penghamparan
· Peralatan: Pada pekerjan besar, biasanya harus disediakan baik penghampar jenis
dayung (paddle) atau ulir (auger), atau ban
berjalan, maupun jenis wadah (hopper) dan ulir (auger), kecuali
apabila digunakan penghampar acuan gelincir. Pada mesin penghampar acuan
gelincir, peralatan penghampar (spreader) merupakan bagian
yang sudah melekat (built-in). Untuk mengurangi pemisahan
butir, semua peralatan harus dioperasikan secara seksama.
· Penghamparan Dua Lapis: Apabila tulangan terdiri dari anyaman dan harus
diletakkan secara manual, maka beton di bawah anyaman harus dihampar terlebih
dahulu tersendiri (struck-off), kemudian anyaman diletakkan
dan selanjutnya lapisan berikutnya dihampar.
· Percobaan Penghamparan: Kontraktor harus menyediakan peralatan dan
menunjukkan metode pelaksanaan pekerjaan dengan cara menghamparkan lapisan
percobaan sepanjang tidak kurang dari 30 m di lokasi yang disediakan oleh
Kontraktor di luar daerah kerja permanen.
Ø Pemadatan
·
Pemadatan pada sambungan dan tepi-tepi, penekanan,
pemadatan secara tumbuk, dan pemadatan secara getar, sampai tingkat tertentu
cukup efektif, tapi tidak secara otomatis menjamin kepadatan beton. Mesin
getar (vibrator), baik jenis internal maupun jenis permukaan dapat
memberikan hasil yang baik.
6.
Penyelesaian Akhir
a. Mesin Penghampar Acuan Gelincir (Slip Form): dirancang untuk sekali lintasan dapat menghampar,
memadatkan, membentuk permukaan dan meratakan beton yang masih plastis,
sehingga dapat memberikan beton yang padat, seragam; dan untuk mendapatkan
permukaan yang disyaratkan hanya memerlukan penyelesaian akhir (dengan tangan)
yang minimal.
b. Mesin Penghampar Acuan Tetap (Fixed Form): Mesin pencetak
perkerasan jalan beton dengan sebilah pisau perata, kayuh berputar atau
perlengkapan berputar, harus mencetak beton yang bersangkutan sehingga memiliki
elevasi, dimensi, kerataan dan kehalusan yang disyaratkan; dan kemudian harus
memadatkan beton tersebut dengan vibrasi atau dengan suatu kombinasi vibrasi
dan penumbukan mekanis.
c. Pemadatan dan Penyelesaian dengan Balok Vibrasi Terkendali: bilamana
pelat-pelat berukuran kecil atau tidak beraturan, atau bila tempat kerja yang
bersangkutan sedemikian terbatas sehingga menyebabkan penggunaan cara-cara yang
diuraikan di atas menjadi tidak praktis, maka beton dapat dicor dan diratakan
secara manual tanpa pra-pemadatan atau segregasi.
d. Pembentukan Tekstur Permukaan: Permukaan perkerasan harus mencakup tektur dan
harus kasar. Tekstur harus diperoleh dari pasir dalam mortar semen.
7.
PELEPAAN (Floating)
Setelah ditempa dan dikonsolidasikan, beton harus
diperhalus lagi dengan bantuan alat-alat lepa, dengan salah satu metoda
berikut:
·
Metode manual
·
Metode Mekanis
8.
MEMPERBAIKI PERMUKAAN
Setelah pelepaan selesai dan kelebihan air dibuang, sementara beton
masih lembek, bagian-bagian yang melesak harus segera diisi dengan beton baru,
ditempa, dikonsolidasi dan di finishing lagi. Daerah yang
menonjol / berlebih harus dipotong dan di-finishing lagi.
Sambungan harus diperiksa kerataannya. Permukaan harus terus diperiksa dan
dibetuikan sampai tak ada lagi perbedaan tinggi pada permukaan dan perkerasan
beton sesuai dengan kelandaian dan tampang melintang yang ditentukan.
9.
PENYELESAIAN
PERMUKAAN (Finishing)
Setelah sambungan dan tepian selesai, dan sebelum
bahan perawatan (curing) dilakukan, permukaan beton harus
dikasarkan dengan disikat melintang garis sumbu (centre line) jalan,
atau dengan cara pembuatan alur (grooving) pada arah melintang
atau memanjang jalan. Pengkasaran yang dilakukan dengan menggunakan sikat kawat selebar tidak
kurang dari 45 cm, dan panjang kawat sikat dalam keadaan baru adalah 10 cm
dengan masing-masing untaian terdiri dari 32 kawat. Sikat hams terdiri dari 2
baris untaian kawat, yang diatur berselang-seling sehingga jarak masing-masing
pusat untaian maksimum 1 cm. Sikat harus diganti bila bulu terpendek panjangnya
sampai 9 cm. Kedalaman tekstur rata-rata tidak boleh kurang dari 0,75 mm.